KABAR OTO – Mengganti cairan radiator secara rutin memang sangat dianjurkan agar sistem pendingin tetap optimal dan suhu mesin stabil.
Dalam proses pengurasan coolant, sebagian orang juga menggunakan radiator flush untuk membersihkan endapan dan kotoran di saluran radiator.
Langkah ini sebenarnya tidak salah. Namun, tidak selalu aman untuk semua kondisi radiator.
Baca Juga : UFILM Jadi Kaca Film OEM Jaecoo J5, Ini 3 Kelebihan yang Ditawarkan
Fungsi Radiator Flush
Radiator flush berfungsi membantu membersihkan:
Menurut Stanley Tjhie dari PT Laris Chandra, distributor Prestone di Indonesia, radiator flush umumnya digunakan saat mengganti merek coolant.
Artinya, jika sebelumnya memakai coolant merek A lalu ingin beralih ke merek B, radiator flush membantu memastikan tidak ada residu yang tertinggal.
Risiko Jika Radiator Sudah Berkarat
Masalah muncul jika radiator sebelumnya:
-
Diisi coolant berkualitas rendah
-
Sering menggunakan air biasa
-
Sudah mengalami korosi atau karat
Jika kondisi radiator sudah rapuh, cairan kimia radiator flush justru bisa memperparah situasi.
Baca Juga : Punya Kesan Lebih Klasik dan Premium, Ini Tampilan Baru Honda Super Cub C125 2026
Kandungan kimianya cukup kuat dan dapat:
Alih-alih bersih, malah jadi bumerang.
Cek Kondisi Radiator Sebelum Flush
Sebelum menggunakan radiator flush, lakukan pengecekan sederhana:
-
Periksa kepala radiator
-
Cek bagian tutup radiator
-
Amati apakah ada tanda karat atau korosi
Jika ditemukan karat cukup parah, sebaiknya batalkan penggunaan radiator flush.
Baca Juga : Intip Detail Perbedaan Toyota Vios Hybrid dan Vios Mesin Bensin, Mana Lebih Unggul?
Radiator flush memang efektif membersihkan sistem pendingin, terutama saat mengganti merek coolant.
Namun jika radiator sudah berkarat atau rapuh, penggunaan cairan ini bisa menyebabkan kebocoran dan menambah biaya perbaikan.
Selalu pastikan kondisi radiator masih sehat sebelum memutuskan melakukan flush agar perawatan tidak berubah menjadi masalah baru.